sponsor kami

Tuesday, December 6, 2011

Abu Bakar Ashshidiq Zuhud dan Dermawan Dijalan ALLAH


Zuhud dan dermawan adalah dua sifat yang berbeda, tetapi berhubungan sangat erat. Jika sesorang zuhud dan tidak tertarik pada sifat-sifat duniawi, maka ia akan bermurah hati untuk membelanjakan hartanya. Jika ia memperoleh sesuatu, ia tidak ingin menyimpannya atau menumpuk – numpukkannya, sehingga dengan senang hati ia akan menginfakkannya.

Selama seseorang itu mencintai harta (yang hakikatnya adalah sampah dunia), hatinya tidak akan condong untuk berinfak dijalan Allah. Walaupun kadang – kadang hatinya tergerak untuk menunujukkan kedermawanannya, namun ia cenderung untuk tidak berpisah dengan hartanya.
Rasulullah Saw, menjelaskan hal ini dengan perumpamaan seperti hadits berikut: “perbandingan antara orang kikir dan orang dermawan adalah seperti dua orang yang mengenakan pakaian luar yang terbuat dari rantai. Mereka mengenakannya dengan satu cara, sehingga tangan – tangan meraka tertekan rapat di dada mereka, tidak keluar dari pakaian itu. Demikianlah, ketika orang dermawan ingin berinfak, maka pakaian rantai itu akan melebar dan segera dan segera tangan – tangannya keluar dari pakaian itu. Tetapi ketika orang kikir ingin bersedekah, maka pakaian itu akan mengkerut dan menekannya lebih rapat lagi, sehingga ia tidak dapat menggerakan tangannya sedikitpun”.
Hadits ini menerangkan bahwa jika seorang yang dermawan berfikir untuk menginfakan uangnya, maka hatinya akan terbuka, sehingga mudah bersedekah tanpa ragu – ragu. Sebaliknya orang yang kikir, mungkin ia terbujuk untuk berinfak, tetapi hatinya merasa sangat berat, terhalang oleh sesuatau dalam dirinya. Ia merasa bagaikan mengenakan pakaian dari baja yang menekan rapat ke dadanya, sehingga ia tidak mampu menggerakan tanggannya. Ia berusaha membujuk dirinya agar dapat menginfakkan sesuatu, tetapai tidak berhasil memisahkan diri dengan uang.
Kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari, orang kikir tidak dapat menggunakan uangnya dengan bijak, jangankan untuk berinfak atau membantu sesama manusia, untuk kepentingan diri pribadinya juga ia merasa enggan mengeluarkan uangnya. Jika keadaan menuntut dirinya untuk berinfak seribu rupiah, maka ia akan merasa sangat berat untuk berpisah dengan uang seratus rupiah.
Abu Bakar Shiddiq r.a. sepanjang hidupnya penuh dengan kisah – kisah kedermawanan. Telah diketahui pada peristiwa Tabuk, ketika Rasulullah Saw, menganjurkan agar para sahabat menginfakkan hartanya, maka Abu Bakar Shiddiq r.a. menyerahkan semua hartanya. Dan ketika Rasulullah bertanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab, ”Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya.”
Allah memuji keluhuran Abu Bakar dalam al Quran sbb.
“Dan kelak akan dijauhkan orang orang yang paling bertaqwa dari neraka itu. Yang menafkahkan hartanya (pada jalan Allah) untuk membersihkannya. Padahal tidak ada seorangpun hyang memberikan suatu ni’mat kepadanya yang harus dibalasnya. Tetapi (dia memberikan itu semata-mata ) karena mencari ridho Tuhannya Yang Maha Tinggi.” (Qs. Al Lail : 17-21)
Ayat ini menegaskan suatu derajat yang sangat tinggi dalam pengabdiannya kepada Allah Swt, dan ia tidak mementingkan dirinya sendiri. Wajar jika ia dihargai seperti itu, sebagai balasan dari kebaikannya. Namun hal itu tidak dapat dibandingkan dengan suatu kemurahan hati jika dilakukan dengan inisiatif sendiri. (Bayanul Quran)
Ibnu Jauzi rah.a, berkata, “para alim ulama sepakat bahwa ayat ini diwahyukan berkenaan dengan Abu Bakar Shiddiq r.a. “Dari Abu Hurairoh r.a. Rasulullah saw bersabda, “tiada harta seseorang yang lebih bermanfaat bagiku daripada harta Abu Bakar.” Mendengar hal ini, Abu Bakar Shiddiq r.a. menangis dan berkata, “Ya Rasulallah saw, apakah diriku dan hartaku milik sesorang selain engkau?”
Hadits diatas diriwayatkan dari beberapa orang sahabat dengan riwayat yang berbeda-beda. Dalam suatu hadits lain mengatakan bahwa pada hari ketika Abu Bakar memeluk islam, ia memiliki 40.000 dirham. Dan ketika ia hijrah ke madinah, ia memiliki tidak lebih dari lima ribu dirham, seluruhnya telah dipergunakan untuk berbagai keperluan agama dan untuk memerdekakan hamba-hamba sahaya yang disiksa karena memeluk islam. (Tatikh ul Khulafaa)

Kecintaan Abu Bakar terhadap Allah dan Rosul-Nya ini yang jarang kita jumpai di zaman sekarang, bahkan mungkin tidak dapat kita jumpai lagi. Perkembangan zaman dan tuntutan hidup yang lebih tinggi seakan-akan menjadi alasan untuk kita untuk melupakan ajaran islam tentang berinfak.
Terima Kasih ya Allah atas semua rizqi yang Engkau berikan, jadikanlah umat islam ini umat yang pandai bersyukur kepadaMu.
Terima Kasih Rasulullah, karena jika bukan karena Engkau ya Rasulalloh, Allah tidak akan menciptakan bumi lengkap dengan segala isinya.

No comments:

Post a Comment